Selasa, 05 Januari 2010

yamaha Bison vs apache vs megapro


FZ-16 (atau Bison) masih hangat-hangatnya jadi topik pembicaraan di mana-mana. Mumpung masih hangat yuk kita lihat kemampuannya melawan dua pendekar 160cc yang sudah lenggang kakung di Indonesia: Apache dan Megapro.

FZ-16 (Bison)

Dari luar FZ-16 punya segalanya buat jadi pusat perhatian, tampangnya sangat berotot-kalau diibaratkan lelaki pasti fitnes setiap hari. Penampilannya juga unik, FZ-16 adalah pelopor pengguna midship muffler di Indonesia. Tambahan lagi head lamp benar-benar menyiratkan tampang muscle bike-sesuai dengan trend naked bike di Eropa. Kaki-kaki juga kekar, dengan spec roda belakang 140/60 bisa bikin begidik V-Ixion yang cungkring. Panel informasi sudah pakai digital, lumayan keren dan terlihat simpel (tidak terlihat bentuk dua cangkang bunder ala panel biasa).

Sayangnya segala “keganasan” tampang tersebut harus dibayar dengan teknologi yang konvensional dibandingkan dengan kakaknya. Mesin masih berpendingin udara, masih karburator, rangka juga masih tipe diamond. Rem belakang juga masih “khas” Yamaha yang pelit memberi set cakram belakang.

Soal harga perkiraan ada di bawah V-Ixion yaitu di angka Rp 18-19 juta. Harga segitu wajarlah apalagi dengan harga di bawah V-Ixion sudah bisa dapat motor kekar

Apache

Jujur meskipun sebagai pengguna Apache, sepak terjang motor besutan TVS ini tidak bisa dianggap istimewa-bahkan dibandingkan dengan Pulsar.

Tampang Apache kental dengan aura India terutama batok depannya. Sama seperti Pulsar dan XCD yang setia bebatok lampu, Apache juga setia dengan pakem motor sport di India yang berbatok ria. Bagi sebagian orang headlamp Apache dirasa terlalu besar untungnya bisa dinetralisir oleh air duct (khusus tipe Dual Disc). Dari samping motor ini tidak ada yang menonjol kecuali mungkin terlihat kekar. Lampu belakang sudah ber-LED ria namun sayangnya bentuknya tidak seganas Pulsar.

Soal fitur cukup oke walaupun masih bermesin konvensional. Panel informasi memadukan digital dengan analog, ada takometer analog dengan spedometer digital, jangan lupa Apache juga dilengkapi dengan jam :-D . Ada juga varian dual disc (seperti punya saya) yang dilengkapi cakram belakang, jangan lupa varian standar selain tidak bercakram belakang juga tidak memiliki air duct.

Soal harga untuk standar Rp 17.5 juta dan Rp 18.5 juta untuk dual disc.

Megapro

Ehem sebenarnya membahas Megapro cukup sulit soalnya motor ini bisa dibilang ala kadarnya.

Tampilan Megapro adalah…aman. Tidak ada tarikan garis yang neko-neko di sini semuanya dirancang bersih dan tidak banyak ulah. Tapi jujur saja peralihan bodi beberapa tahun lalu juga tidak mampu menolong Megapro untuk sekekar saudara tuanya-Tiger. Tapi oke walaupun tampilan terkesan bapak-bapak kantoran setidaknya bagi anda yang low profile, Megapro adalah pilihan tepat.

Fitur yang diusung Megapro bisa dibilang tidak istimewa. Panel informasi masih analog, tidak ada cakram belakang, mesin konvensional, minus lampu LED, dsb. Tapi diluar itu semua masih ada jaminan after sales AHM (AHASS ada dimana-mana) dan harga jual kembali yang stabil.

Untuk harga, Honda mematok banderol Rp 19,3 juta untuk SW dan Rp 20,5 juta untuk CW (termahal di kelasnya eh???)

Komparasi performa di atas kertas

Sekarang mari kita lihat tenaga masing-masing. FZ-16 mampu menghasilkan tenaga sampai 14bhp @ 7500rpm. Apache mampu mengungguli dengan 15,2 bhp @ 8500rpm. Sedangkan Megapro ada di posisi buncit dengan tenaga 13,3 bhp @ 8500rpm.

Kalau dilihat Apache memang unggul soal besarnya tenaga, namun FZ juga bisa menyaingi karena tenaga puncak FZ didapat di putaran yang lebih rendah. Apache perlu rpm lebih tinggi karena mesinnya mengusung overbore.

Lalu kita lihat torsi masing-masing. FZ-16 menghasilkan torsi sebesar 13.9Nm @ 6000rpm. Apache berada di bawahnya dengan torsi 13.1Nm @ 600orpm. Sedangkan Megapro lagi-lagi ada di posisi buncit dengan torsi 12.7Nm @ 6000rpm.

Dilihat dari karakter tenaga, torsi, dan putaran mesin FZ lebih cocok bermain di lingkungan perkotaan yang padat karena tenaganya cocok untuk stop and go. Untuk Apache lebih nikmat untuk bermain putaran tinggi di sirkuit atau luar kota. Dan Megapro ehem…performanya memang paling buncit diantara ketiganya.

Tapi itu di atas kertas, kenyataan di lapangan bisa berkata lain…

Oke kesimpulannya untuk perkotaan dan urusan tebar pesona FZ-16 jagonya, buat Apache lebih cocok untuk yang suka turing maupun performa tinggi, sedangkan untuk jiwa low-profile, kemudahan 3S, dan harga jual terjamin bisa memilih Megapro.

Itu dulu dari saya, tapi cara mengkomparasi terbaik memang dengan mencoba satu-satu, silahkan pilih motor berdasarkan kebutuhan dan karakter…


Suzuki Skydrive


Suzuki Skydrive

Cukup cerdik produsen sepeda motor Suzuki Indonesia, PT Indomobil Niaga International (IMNI), dalam membidik pangsa pasar skubek. Mereka melempar tiga varian dengan model terbaru Suzuki Skydrive Dynamatic 125 yang baru diluncurkan di Pondok Laguna, Jakarta, Senin (30/3). Dua skubek sebelumnya adalah Suzuki Spin dan Skywave.

Adapun para kompetitor hanya mengandalkan dua varian. Seperti Honda dengan Vario dan Beat, sementara Yamaha menyodorkan Mio dan Mio Soul.

Peluncuran Skydrive di Senayan itu dibarengi dengan kampanye dari PKS. "Anda belum tahukan arti PKS itu, yakni Produk Kebangkitan Suzuki," senyum Gunadi Sindhuwinata.

Ketika ditanya, kenapa disebut sebagai produk kebangkitan, dengan bangga dan lancar, Presiden Direktur PT IMNI menjawab. Dengan Skydrive ini, tegasnya, kami ingin merebut pasar kompetitor. "Jangan salah, di kelasnya (125 cc) Skydrive punya tenaga paling besar dengan konsumsi bahan bakar satu liter bensin bisa menempuh jarak 41 km."

Seperti disampaikan Mr Mario Omanyuda selaku Dept Head Marketing 2W bahwa hari ini bisa menyaksikan sebuah revolusi produk skuter matik. Skydrive ini, katanya, terinspirasi dari konsep SD-01 dan SD-02 (sempat dipajang di JMS 2008) sehingga tampilannya sangat futuristik dengan performa yang agresif.

Soal harga, Setiawan Surya mematok harga Rp 13 juta (on the road). Menurut Asisten Dept Head Marketing 2W itu, Skydrive dibidik untuk anak muda dengan usia 19-23 tahun, "Sementara Suzuki Spin untuk pemula, Skywave diperuntukkan bagi anak muda yang mapan," papar Setiawan.

Dengan harga segitu, pihaknya menargetkan 12.000 unit per bulan. Sekalipun harganya mepet dengan saudaranya, Setiawan tidak takut akan memengaruhi produk pendahulunya. "Di sini kita justru memberi pilihan pada konsumen, ada Spin untuk pemula, Skywave yang mapan, dan Skydrive buat anak muda," yakin Setiawan.

Yamaha JupiterZ VS Honda Absolute Revo

absolute-revo

Sepertinya sekarang JupiterZ sudah mendapat lawan yang seimbang dari kompetitor terdekatnya. Memang Honda Blade juga menggunakan volume silinder 110cc, tetapi karena Absolute Revo baru diluncurkan, jadi kami mengkomparasi seperti ini saja ya….. JupiterZ yang satu ini diluncurkan pada bulan April 2006, banyak orang yang menyebut JupiterZ ini adalah JupiterZ Burhan (Burung Hantu). Inilah dia para petarung kita.

Performa

Walaupun kedua motor ini sama-sama menganut volume silinder 110cc, tetapi masalah performa ada bedanya juga loh… Bore X Stroke kedua motor ini berbeda. JupiterZ memiliki Bore X Stroke 51×54mm sedangkan Absolute Revo memiliki Bore X Stroke 50×55,6mm. Kalau dilihat dari Bore X Stroke kedua motor ini sama-sama menggunakan metode under Bore, hal ini dapat dikatakan bahwa motor ini cocok untuk harian. Sama-sama memiliki tipe mesin 4 langkah dengan penggerak klep SOHC dan pendingin mesin berupa udara. Perbandingan kompresi JupiterZ sebesar 1:9.3 dan Absolute Revo sebesar 1:9.0, artinya JupiterZ butuh oktan 92 dan Absolute Revo hanya butuh oktan 88. Luaran tenaga yang dihasilkan juga berbeda. JupiterZ dapat menyemburkan tenaga sebesar 8.8HP @ 8000rpm sedangkan Absolute Revo sebesar 8.46PS atau bila dikonversikan ke HP menjadi 8.37HP @ 7500rpm.

Desain

Dari segi desain, Absolute Revo memang berbeda dengan Supra fit ataupun Revo. Tetapi pada bagian head lamp Absolute Revo lebih mirip Supra X 125. JupiterZ memang mirip dengan burung hantu, itulah sebabnya mengapa JupiterZ cukup diterima kalangan masyarakat.

Fitur dan Keamanan

Masalah fitur memang tidak perlu di perhatikan lagi. Jelas Absolute Revo adalah pemenangnya, Sprocket Chain Stopper dan Key Secure Starter with fosfor sudah menjadi senjata pamungkas untuk mengalahkan JupiterZ. Untuk segi keamanan, kedua motor ini hampir sama. Sama-sama memiliki cakram hidrolik pada depan dan teromol pada bagian belakang.

Menurut anda, motor manakah yang layak menjadi pemenangnya ya?? Kalau saya, karena saya pake JupiterZ. Jadi yang menang teteplah JupiterZ….

New Jupiter Z

JAKARTA - PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) telah resmi meluncurkan New Jupiter Z. Apa yang istimewa dari bebek baru ini hingga Yamaha rela menghentikan produksi tipe lamanya?

Menurut Vice President director YMKI Dyonisius Beti, New Jupiter Z mengadopsi teknologi balap. Benarkah?

Bila melihat penampilannya, sosok Jupiter Z anyar ini memang benar-benar berbeda dibanding pendahulunya. Sebut saja misalnya perubahan pada desain lampu depan baru yang lebih sporty serta tambahan tampilan flasher light yang membuatnya lebih mirip dengan Jupiter MX.

Kemudian ada pula desain speedoleter baru yang menggunakan LED ilumination berwarna biru, yang sanggup memendarkan cahaya terang saat malam hari. Belum lagi bentuk lampu belakang yang meruncing dan futuristik, membuat penampilan Jupiter Z kali ini benar-benar berbeda.

Itu yang langsung kelihatan secara sepintas. Bila ditelisik lebih lanjut, detail-detail ubahan juga terjadi pada bagian lain. Seperti cover handle, bagasi yang lebih besar, serta guard key pada kunci starternya. Mirip dengan yang selama ini diterapkan pada motor-motor keluaran Honda.

Perubahan juga menyasar ke sisi mesin. dapur pacu Jupiter Z kini meningkat jadi 115 cc. namun urusan performa, tampaknya perbedaan kapasitas silinder ini tak mempengaruhi kinerja New Jupiter Z.

Karena, bebek baru Yamaha itu hanya sanggup mengeluarkan tenaga sebesar 6.0 kW pada 7.500 rpm dengan torsi puncak 8.3 Nm di 4.500 rpm. Bandingkan dengan jupiter lama dengan mesin 110 cc bisa menghasilkan tenaga yang serupa yakni 6.55 kW di 8.000 rpm dengan torsi 9.0 Nm di 5.000 rpm.

Demikian pula untuk sasis yang digunakan. Meski lagi-lagi bos YMKI menilai New Jupiter Z ini menggunakan rangka motor balap Yamaha, tetapi dari spesifikasi yang tampak, motor ini setali tiga uang dengan versi lawasnya.

YMKI tetap menggunakan rangka baja underbone dengan suspensi telescopic di depan dan lengan ayun di belakang. Ukuran ba juga masih sama 70/90-17 di depan serta 80/90-17 untuk ban belakang. Pun demikian YMKI juga masih yakin dengan kemampuan tromol pada roda belakangnya. Sementara di ban depan sudah dilengkapi cakram.

Dengan banderol Rp14,5 juta untuk tipe pelek racing dan Rp13,8 juta untuk yang jari-jari, konsumen disajikan penampilan baru yang lebih segar dari Jupier Z. (uky)